HOLISPORT

Apa Sih Arti Sebenarnya Istilah “False Nine” Dalam Sepak Bola ?


  October 10, 2017

Banyak orang yang masih salah kaprah tentang istilah False Nine dalam sepak bola. Banyak yang berkata bahwa False Nine merupakan seorang penyerang palsu dimana gelandang diposisikan sebagai striker murni, tentu pernyataan tersebut adalah kesalahan. Contohnya pada laga Persib Bandung menghadapi Bhayangkara FC akhir September lalu. Kala itu komentator pertandingan berulang kali menyebutkan bahwa Raphael Maitimo bermain sebagai false nine. Pemain berpaspor Indonesia itu bermain sebagai penyerang lantaran penyerang andalan Persib, Ezechiel Ndouassel, absen karena akumulasi kartu. Maitimo sendiri biasanya ditempatkan sebagai gelandang. Anggapan Maitimo sebagai false nine sebenarnya kurang tepat. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya, gaya bermain Maitimo, dari cara bergerak dengan maupun tanpa bola, ia bermain seperti Ezechiel, seorang target man. False nine memang tidak sesederhana pemain gelandang yang menempati pos penyerang.

False nine bukanlah posisi, melainkan peran (role). Maka untuk melihat peran, kita memang perlu melihat dari cara seorang pemain bermain. Singkatnya, peran pemain bukan tentang siapa yang memainkannya, tapi seperti apa ia bermain. Sementara ketika itu, Maitimo tidak mencerminkan permainan seorang false nine.

Pertanyaannya, memangnya seperti apa gaya bermain seorang false nine? Sejarah penggunaan false nine itu sendiri tampaknya akan cukup bisa menggambarkannya.

Dilansir dari panditfootball.com, Peran false nine mungkin baru populer ketika Fabregas di Timnas Spanyol atau Lionel Messi memainkannya di Barcelona. Tapi sebenarnya, peran ini sudah ada sejak 1930an. Adalah Danubian School di Austria yang pertama kali menggunakan false nine. Ketika itu, seperti yang ditulis Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: the history of football tactics, Danubian School yang dilatih Hugo Meisl menggunakan pola dasar 2-3-5 dengan penyerang tengah no.9 ditarik agak mundur dibanding empat penyerang lain yaitu penyerang no.7, 8, 10 dan 11.

(Role False Nine ditujukan pada no 9, dimana penyerang tengah ditarik sedikit mundur melainkan striker lain)

(Role False Nine ditujukan pada no 9, dimana penyerang tengah ditarik sedikit mundur melainkan striker lain)

Setelah sekian lama menghilang, peran false nine kembali muncul di Eropa pada 2006/2007. Adalah Luciano Spalletti yang saat itu menukangi AS Roma yang menggebrak persepakbolaan Eropa dengan false nine. Ia memainkan Francesco Totti yang biasanya bermain sebagai gelandang serang pengatur serangan menjadi penyerang dalam formasi dasar 4-1-4-1. Walau begitu, bentuk penyerangan Roma saat itu membuat mereka seperti bermain tanpa penyerang, karena Totti tetap bermain layaknya gelandang serang meski secara posisi ia ditempatkan menjadi penyerang tengah.

Perubahan ini dicoba Spalletti lantaran tumpulnya para penyerang tengah Roma. Apalagi musim tersebut Antonio Cassano baru hijrah ke Real Madrid. Mirko Vucinic penggantinya tak bisa berbuat banyak lantaran ia menderita cedera lutut sejak musim pertama ia bergabung. Vincenzo Montella tak setajam beberapa tahun sebelumnya. Begitu juga dengan Ahmed Hossam Mido dan Francesco Tavano.

Di sisi lain, 4-1-4-1 yang digunakan Spalletti dengan Totti sebagai false nine justru membuat ikon Roma tersebut panen gol. Ia mencetak 32 gol dalam satu musim, membuatnya meraih gelar top skor Serie A dan Sepatu Emas. Eksperimen Spalletti yang sebelumnya lebih sering menggunakan 4-2-3-1 sangat berhasil saat itu. Skema 4-1-4-1 tanpa penyerang ini membuat Roma menyerang sangat cair (fluid) karena mereka tidak menyerang hanya lewat satu sisi. Dalam 4-1-4-1, Spalletti membaginya ke dalam dua grup, lima pemain bertahan, dan lima pemain menyerang. Lima pemain bertahan dipimpin oleh Daniele De Rossi, sementara lima pemain menyerang dipimpin oleh Totti. Dengan visi, kreasi dan teknik yang dimilikinya, Totti pun bisa membuat serangan Roma lebih dinamis dan menyerang lewat segala arah.

Saat serangan dari segala arah tersebut membuat lini pertahanan lawan kewalahan, Totti juga bisa mendapatkan ruang yang cukup ketika lini pertahanan lawan terfokus pada pemain lain (Mancini dan Rodrigo Taddei di kedua sayap, Simone Perrotta dan David Pizarro di tengah) yang memanfaatkan ruang hasil kreasi Totti. Dengan serangan seperti ini, tak hanya Totti yang mencetak banyak gol, Mancini dan Perrotta juga masing-masing berhasil mencetak 13 gol pada musim tersebut.

Tak banyak memang pemain yang bisa bermain sebagai false nine. Selain Totti, Messi juga pemain yang dikenal sangat mahir bermain sebagai false nine, dan yang paling terkenal adalah Cesc Fabregas di Barcelona pada musim 2011/2012 dan saat membela Timnas Spanyol dibawah asuhan Vicente Del Bosque. Sekarang baru muncul Dries Mertens yang produktif bersama Napoli setelah diplot sebagai false nine oleh Maurizio Sarri karena penyerang mereka, Arkadiusz Milik, cedera panjang. Sarri bahkan menyebut false nine yang diperankan Mertens dengan falso nuevo.

Dalam penyebutan peran, kita memang tidak bisa hanya melihat posisinya saja, tapi juga bagaimana ia bermain. Apalagi untuk peran false nine, terbilang tidak sembarangan karena hanya sedikit pemain yang fasih memerankan peran ini.

Penulis & Editor : Koco

Sumber : Panditfootball.com

Berita Satu Plaza, Floors.10, Jl. Gatot Subroto 35-36, Jakarta Selatan 12250

CONTACTUS@HOLIDAYONAIR.COM

+6281 212 332 141